catatan:
Ada yang berpendapat, bahwa ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh gejolak harga minyak. Salah satu pendapat itu tertuang dalam artikel tulisan penulis favourite saya, Sri Hartati Samhadi, dari Kompas.
Keluar dari Lingkaran Setan Harga Minyak
FOKUS, Sri Hartati Samhadi, Jumat, 30 Mei 2008 | 00:56 WIB
Demi menyelamatkan APBN, pemerintah kembali menaikkan harga BBM bersubsidi. Seperti lagu klasik, setiap kali harga minyak mentah dunia melonjak, pemerintah kalang kabut dengan pembengkakan subsidi BBM dan defisit APBN, kemudian mengaku terpaksa menaikkan harga BBM sebagai opsi terakhir. Setiap kali itu pula, hiruk-pikuk demo penolakan kenaikan harga BBM dan heboh penyaluran dana kompensasi yang amburadul terjadi.
Dalam tiga tahun, sudah tiga kali pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Jika berpegang pada ambisi pemerintah untuk menyamakan harga BBM domestik dengan harga internasional dalam empat tahun, sementara harga minyak mentah diprediksikan akan terus naik, lingkaran setan ini tampaknya masih akan berlanjut.
Dengan kenaikan harga BBM, untuk sementara, APBN memang selamat (kendati ekonomi rakyat dan ekonomi nasional babak belur). Tetapi, sampai kapan?
BP Migas dan Pertamina kembali menjadi ”tersangka utama” dalam kemelut BBM kali ini karena dianggap yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Indonesia mendongkrak produksi minyak mentah guna mengimbangi lonjakan konsumsi BBM di dalam negeri.
Akibatnya, Indonesia babak belur ketika harga minyak mentah melambung hingga 137 dollar AS per barrel pekan lalu karena 37-40 persen kebutuhan minyak mentah dan BBM dalam negeri masih harus impor.
Keberadaan BP Migas dianggap investor justru menciptakan momok birokrasi baru yang membuat iklim investasi migas kian tak kondusif sehingga Indonesia gagal memetik manfaat dari lonjakan harga minyak.
Sorotan pada Pertamina lebih diarahkan pada inefisiensi akibat panjangnya tata niaga pengadaan minyak mentah dan BBM oleh BUMN ini. Ada tudingan, Pertamina sengaja melanggengkan ketergantungan pada impor. Meski Pertamina yang sekarang ini bukan lagi seperti Pertamina di era Orde Baru, beberapa kasus menunjukkan mafia korupsi bukan tak mungkin masih ada.
Kebijakan energi
Dengan status importir neto minyak Indonesia dan kecenderungan kenaikan harga minyak mentah dunia, ke depan upaya mengurangi kerentanan perekonomian dari gejolak harga minyak hanya bisa dicapai dengan mengurangi ketergantungan ekonomi dan pemenuhan energi nasional pada BBM.
Berulangnya krisis energi menunjukkan langkah yang ditempuh belum menyentuh akar persoalan. Ini potret kegagalan kebijakan pengelolaan energi dalam skala lebih luas (tidak hanya pada masa pemerintahan sekarang, tetapi juga sebelum-sebelumnya), termasuk pembenahan fundamental dari sisi suplai dan permintaan, di mana produksi minyak mentah dan tata niaga BBM hanya salah satunya.
Salah satunya, kebijakan yang tidak mendahulukan keamanan pasokan energi dalam negeri dulu, terutama untuk minyak mentah, gas, dan batu bara yang masih menyumbang 90 persen lebih pemenuhan energi nasional.
Beberapa krisis listrik yang dialami PLN dan kolapsnya sejumlah industri nasional bersumber dari tidak adanya kepastian pasokan bahan bakar ini. Salah satu biang keroknya, sistem kontrak jangka panjang penjualan minyak mentah dan gas yang dinilai tak masuk akal dalam struktur pasar minyak yang oligopolis dan di tengah lonjakan harga energi dunia.
Selain konversi minyak tanah rumah tangga ke elpiji (juga tak terlalu mulus), bisa dikatakan program efisiensi, percepatan konversi, dan diversifikasi jalan di tempat. Target pengurangan peran BBM dalam penyediaan energi nasional menjadi 2 persen tahun 2009 kecil kemungkinan tercapai karena separuh lebih kebutuhan energi nasional masih bergantung pada BBM.
Argumen yang sering muncul, program tak jalan karena tak didukung partisipasi rakyat. Namun, dalam banyak kasus, kegagalan justru bermuara pada kebijakan pemerintah, termasuk di antaranya kebijakan subsidi, regulasi, serta rezim perpajakan yang tidak mendorong upaya efisiensi, konservasi, dan diversifikasi sumber energi, antara lain karena dikalahkan oleh lobi atau kepentingan sektor lain.
Termasuk di sini lobi industri otomotif asing untuk memperluas pasar dan kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi yang lebih memprioritaskan jalan tol ketimbang sarana transportasi massal.
Bagaimana mengurangi konsumsi BBM jika sektor transportasi (pengguna BBM terbesar dan terboros) hampir 100 persen masih mengandalkan BBM sebagai bahan bakar, sementara penjualan mobil dan kredit kendaraan bermotor masih terus tumbuh dua digit setiap tahun?
Bagaimana menekan konsumsi BBM jika 60 persen kegiatan pembangkitan listrik masih mengandalkan BBM, antara lain karena pasokan batu bara dan gas juga sulit diharapkan? Bagaimana bicara diversifikasi dan konversi jika infrastrukturnya sendiri tidak pernah disiapkan?
Politik harga
Politik harga energi di Indonesia yang menetapkan harga BBM seragam di seluruh Indonesia dan untuk semua pengguna tanpa kecuali juga membuat subsidi dan beban kenaikan harga minyak selama ini tak terbagi adil dan proporsional.
Istilahnya, orang terkaya dengan aset 9,2 miliar dollar AS dengan buruh kecil, atau pemilik mobil mewah dengan angkutan umum atau tukang ojek yang motornya masih kreditan membeli bensin dengan harga sama.
Kalau sekarang harga BBM dinaikkan karena argumen 80 persen subsidi dinikmati orang kaya, lagi-lagi beban paling berat kembali jatuh pada kelompok rakyat termiskin.
Para ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan kenaikan harga BBM kali ini akan mengakibatkan lonjakan angka kemiskinan menjadi 21,9 persen atau 41,7 juta jiwa. Berlawanan dengan klaim ekonom pemerintah yang belum-belum sudah mengatakan angka kemiskinan justru akan menurun pascakenaikan harga BBM karena program BLT.
Dalam setiap kenaikan harga BBM, pemerintah selalu bermain dengan slogan kenaikan harga BBM sebagai opsi terakhir. Sementara beberapa opsi, seperti mengoptimalkan penerimaan pajak (termasuk dari sektor booming) dan efisiensi anggaran, belum dilakukan secara optimal.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi momentum untuk membenahi ketahanan energi nasional, seperti juga lonjakan harga pangan untuk pembenahan ketahanan pangan.
Jangan menunggu sampai harga minyak mencapai 200 dollar AS per barrel.
sumber Kompas
Jumat, 30 Mei 2008
Manipulasi Transaksi Minyak
Ada Manipulasi Transaksi Minyak
Energi dan Pangan, Sabtu, 31 Mei 2008 | 00:22 WIB
Washington, Kamis - Badan Pengawas Bursa Berjangka AS akan memperluas pengawasan terhadap pasar minyak dan komoditas. Lembaga itu telah menginvestigasi selama enam bulan terakhir soal dugaan manipulasi di pasar minyak dan komoditas lainnya di AS yang menyebabkan harga melonjak. Hasilnya, memang ditemukan manipulasi harga.
Badan Pengawas Bursa Berjangka AS (Commodities Futures Trading Commission/CFTC) melaporkan berulang kali di hadapan Kongres AS telah menemukan bukti bahwa kenaikan harga minyak secara sistematis didorong oleh ulah spekulan. Laporan terbaru itu juga menyimpulkan demikian.
Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral AS, mengatakan, sekitar 10 dollar AS dari setiap harga minyak yang tercatat sekarang adalah karena ulah spekulan. Namun, analis lain mengatakan, porsi aksi spekulan dalam kenaikan harga minyak adalah sebesar 20 dollar AS.
Pengumuman hasil investigasi CFTC itu dikeluarkan hari Kamis (29/5) di Washington. Dalam delapan bulan terakhir, harga minyak naik tajam dari 80 dollar AS per barrel menjadi 135 dollar AS walau kini sudah turun menjadi sekitar 127 dollar AS per barrel. Demikian pula harga pangan melonjak tajam sejak tahun 2005.
Penyelidikan dilakukan tahun lalu setelah Kongres mengusulkan pengaturan yang lebih ketat pada pasar komoditas.
CFTC menyatakan, investigasi itu meliputi pembelian, transportasi, penyimpanan, perdagangan minyak mentah, serta hal-hal lain yang terkait dengan transaksi kontrak berjangka minyak.
Dalam penyelidikan itu ditemukan ada tindakan yang meminta tanker minyak dipendam di laut atau diminta berangkat ke sebuah tujuan agar memberi kesan pasokan minyak ketat.
Menurut Dow Jones Newswire, ada juga fenomena penimbunan atau penyimpanan stok minyak yang dilakukan di sebuah tempat. Hal ini tidak bisa dilacak, tetapi tujuannya juga untuk memperkuat kesan bahwa pasokan minyak di pasaran sangat ketat. Hal ini ternyata mudah membuat pelaku pasar gugup sehingga turut berebutan melakukan transaksi beli, yang makin mendongkrak harga minyak.
Kerja sama
Biasanya regulator tidak mengeluarkan pengumuman mengenai investigasi yang tengah dilakukan. Akan tetapi, CFTC menyatakan, pengumuman investigasi itu merupakan langkah luar biasa karena keadaan pasar komoditas yang sangat tidak menentu. Namun, hal-hal detail tentang penyelidikan itu masih tetap dirahasiakan, termasuk pelaku.
Kini untuk memperkuat pengawasan di bursa berjangka, CFTC telah menjalin kesepakatan dengan Otoritas Keuangan Inggris, Bursa Berjangka New York, dan IntercontinentalExchange (Chicago) untuk saling memberikan informasi seputar perdagangan harian, khususnya mengenai kontrak minyak mentah yang diperdagangkan di AS dan Inggris.
"Karena volume kontrak di bursa berjangka AS melonjak pesat dalam beberapa tahun belakangan ini, pelaku spekulasi juga melonjak. Transaksi yang memainkan indeks harga juga mulai marak di bursa berjangka," demikian keterangan CFTC.
Karena itu, CFTC menuntut keterbukaan soal data aktivitas perdagangan oleh setiap pelaku, yang harus diberikan setiap bulan. Data ini akan membantu CFTC sebagai dasar perbaikan pada pengawasan transaksi di bursa berjangka.
Senator Jeff Bingaman, Ketua Komite Energi dan Sumber Daya Alam Senat AS, mengatakan, CFTC harus memerhatikan apa yang terjadi di pasar. Inilah yang menjadi alasan penyelidikan itu.
"Kurangnya data menyeluruh mengenai transaksi perdagangan minyak membuat pihak-pihak tertentu mencoba melakukan spekulasi pada saat harga minyak sudah sangat memukul konsumen di AS," kata Bingaman pada suratnya yang ditujukan untuk pejabat sementara Ketua CFTC Walter Lukken. (Reuters/AP/AFP/joe)
sumber Kompas
Energi dan Pangan, Sabtu, 31 Mei 2008 | 00:22 WIB
Washington, Kamis - Badan Pengawas Bursa Berjangka AS akan memperluas pengawasan terhadap pasar minyak dan komoditas. Lembaga itu telah menginvestigasi selama enam bulan terakhir soal dugaan manipulasi di pasar minyak dan komoditas lainnya di AS yang menyebabkan harga melonjak. Hasilnya, memang ditemukan manipulasi harga.
Badan Pengawas Bursa Berjangka AS (Commodities Futures Trading Commission/CFTC) melaporkan berulang kali di hadapan Kongres AS telah menemukan bukti bahwa kenaikan harga minyak secara sistematis didorong oleh ulah spekulan. Laporan terbaru itu juga menyimpulkan demikian.
Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral AS, mengatakan, sekitar 10 dollar AS dari setiap harga minyak yang tercatat sekarang adalah karena ulah spekulan. Namun, analis lain mengatakan, porsi aksi spekulan dalam kenaikan harga minyak adalah sebesar 20 dollar AS.
Pengumuman hasil investigasi CFTC itu dikeluarkan hari Kamis (29/5) di Washington. Dalam delapan bulan terakhir, harga minyak naik tajam dari 80 dollar AS per barrel menjadi 135 dollar AS walau kini sudah turun menjadi sekitar 127 dollar AS per barrel. Demikian pula harga pangan melonjak tajam sejak tahun 2005.
Penyelidikan dilakukan tahun lalu setelah Kongres mengusulkan pengaturan yang lebih ketat pada pasar komoditas.
CFTC menyatakan, investigasi itu meliputi pembelian, transportasi, penyimpanan, perdagangan minyak mentah, serta hal-hal lain yang terkait dengan transaksi kontrak berjangka minyak.
Dalam penyelidikan itu ditemukan ada tindakan yang meminta tanker minyak dipendam di laut atau diminta berangkat ke sebuah tujuan agar memberi kesan pasokan minyak ketat.
Menurut Dow Jones Newswire, ada juga fenomena penimbunan atau penyimpanan stok minyak yang dilakukan di sebuah tempat. Hal ini tidak bisa dilacak, tetapi tujuannya juga untuk memperkuat kesan bahwa pasokan minyak di pasaran sangat ketat. Hal ini ternyata mudah membuat pelaku pasar gugup sehingga turut berebutan melakukan transaksi beli, yang makin mendongkrak harga minyak.
Kerja sama
Biasanya regulator tidak mengeluarkan pengumuman mengenai investigasi yang tengah dilakukan. Akan tetapi, CFTC menyatakan, pengumuman investigasi itu merupakan langkah luar biasa karena keadaan pasar komoditas yang sangat tidak menentu. Namun, hal-hal detail tentang penyelidikan itu masih tetap dirahasiakan, termasuk pelaku.
Kini untuk memperkuat pengawasan di bursa berjangka, CFTC telah menjalin kesepakatan dengan Otoritas Keuangan Inggris, Bursa Berjangka New York, dan IntercontinentalExchange (Chicago) untuk saling memberikan informasi seputar perdagangan harian, khususnya mengenai kontrak minyak mentah yang diperdagangkan di AS dan Inggris.
"Karena volume kontrak di bursa berjangka AS melonjak pesat dalam beberapa tahun belakangan ini, pelaku spekulasi juga melonjak. Transaksi yang memainkan indeks harga juga mulai marak di bursa berjangka," demikian keterangan CFTC.
Karena itu, CFTC menuntut keterbukaan soal data aktivitas perdagangan oleh setiap pelaku, yang harus diberikan setiap bulan. Data ini akan membantu CFTC sebagai dasar perbaikan pada pengawasan transaksi di bursa berjangka.
Senator Jeff Bingaman, Ketua Komite Energi dan Sumber Daya Alam Senat AS, mengatakan, CFTC harus memerhatikan apa yang terjadi di pasar. Inilah yang menjadi alasan penyelidikan itu.
"Kurangnya data menyeluruh mengenai transaksi perdagangan minyak membuat pihak-pihak tertentu mencoba melakukan spekulasi pada saat harga minyak sudah sangat memukul konsumen di AS," kata Bingaman pada suratnya yang ditujukan untuk pejabat sementara Ketua CFTC Walter Lukken. (Reuters/AP/AFP/joe)
sumber Kompas
Bahan Bakar Air
Catatan:
Manusia boleh saja berupaya atau berikhtiar melakukan penemuannya untuk manfaat sebanyak-banyaknya bagi kepentingan manusia itu sendiri. Namun, jauhi godaan untuk membentuk kebohongan, apalagi jika itu demi kuntungan pribadi.
Bahan Bakar Air Menyalahi Hukum Alam
Robert Manurung, Sabtu, 31 Mei 2008 | 00:45 WIB
Pada saat pelaporan ekspedisi kendaraan berbahan bakar nabati di Istana Negara satu tahun yang lalu, atas pertanyaan keabsahan bahan bakar air, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman merespons dengan guyonan bahwa bahan bakar air mungkin benar bila diminum orang yang kehausan dan memulihkan tenaga untuk kemudian mendorong mobil hingga bergerak.
Saya yang berdiri di samping Menneg Ristek berbisik untuk menggunakan kesempatan tersebut memberi penjelasan rinci, yang ditanggapinya bahwa yang hadir saat itu tahu bahwa air tidak mungkin digunakan sebagai bahan bakar. Saya meyakini bahwa semua yang mempelajari konversi energi setuju dengan pendapat Menneg Ristek. Namun, mungkin karena pendapat tersebut tidak disuarakan, setahun kemudian kalangan yang meyakini keberadaan bahan bakar air ternyata semakin berkembang.
Kita perlu memberi apresiasi terhadap usaha pengembangan energi alternatif, tetapi rasionalitasnya harus ditegakkan agar tidak merugikan orang yang terlibat pengembangan atau masyarakat secara umum.
Hukum Termodinamika
Konversi energi dilandasi oleh hukum alam yang dirumuskan dalam hukum termodinamika. Hukum Pertama Termodinamika menjelaskan prinsip kekekalan energi, yang menyatakan bahwa energi tak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. Energi hanya dapat dikonversi (transduksi) dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sebagai contoh, energi kimia yang terkandung dalam BBM dikonversi menjadi energi mekanik dalam bentuk gerak torak ketika BBM terbakar dalam ruang bakar mesin.
Hukum Kedua Termodinamika menjelaskan konsep bahwa setiap kejadian di alam semesta memiliki arah dan cenderung berlangsung â€menurun†dari tingkat energi tinggi ke tingkat energi rendah. Oleh karena itu, dalam setiap transformasi energi terjadi penurunan ketersediaan energi sejalan dengan kerja yang dilakukan. Sebuah batu dari tebing cenderung bergerak menuju ke jurang dan ketika mencapai jurang, kemampuan batu untuk melakukan kerja berkurang. Tidak mungkin batu tersebut mampu mengangkat dirinya sendiri mendaki tebing ke atas. Kehilangan energi selama proses tersebut merupakan hasil dari kecenderungan ke arah ketidakteraturan/keacakan (disorder/randomness) lingkungan-alam semesta yang meningkat setiap saat, di mana terjadi transfer energi. Keacakan tersebut diukur sebagai entropi.
Berdasarkan Hukum Kedua Termodinamika, setiap kejadian diikuti dengan kenaikan entropi lingkungan. Contoh sederhana, ketika sebuah gula berbentuk kotak dijatuhkan ke segelas air panas, akan terjadi pergeseran spontan molekul sukrosa dari keadaan yang terstruktur pada kristal menjadi keadaan yang jauh tidak teratur dengan penyebaran molekul gula pada keseluruhan larutan dan entropi sistem meningkat. Molekul sukrosa yang terdistribusi dalam larutan dapat kembali terstruktur jika ada energi yang dipasok, misalnya melalui penguapan air. Meski molekul gula menjadi teratur kembali, jumlah uap air yang menyebar menciptakan keacakan yang lebih besar sehingga entropi keseluruhan juga meningkat.
Air hanya reaktan
Lalu, apa yang melandasi peningkatan kinerja BBM dengan kehadiran air? Yang perlu dicatat dari semua pemberitaan pemakaian bahan bakar air adalah air tidak digunakan sendirian, tapi selalu bagian dari BBM.
Kehadiran air pada sistem pembakaran memang memungkinkan meningkatkan efisiensi pembakaran karena mengubah mekanisme dan/atau menyempurnakan reaksi pembakaran. Pengolahan air terlebih dahulu dengan penambahan bahan kimia atau perlakuan elektrolisis tentu akan memberi kontribusi yang lebih besar dengan kehadiran energi lain pada air.
Penambahan uap air untuk meningkatkan kinerja pada proses gasifikasi (proses mengubah batu bara, kayu, sekam, dan lainnya menjadi bahan bakar gas me- lalui reaksi C + H2O --> CO + H2) sudah lazim dilakukan. Namun, harus dicatat, sebagian unsur karbon (C) dari bahan itu dibakar (bereaksi dengan O2) untuk menghasilkan energi termal agar dimungkinkan air tersebut bereaksi dan berubah menjadi H2.
Dalam hal ini, energi kimia yang terkandung pada H2 dan CO berasal dari karbon (C) dan bukan dari air. Air hanya berperan sebagai reaktan. Perubahan air ini tunduk pada Hukum Termodinamika Pertama ataupun Kedua.
Pembakaran suatu bahan bakar menghasilkan air (H2O) dan karbon dioksida (CO2), yang merupakan struktur molekul hasil pembakaran yang paling stabil. Produk akhir ini tidak mungkin kembali dengan sendirinya menjadi bahan bakar, ibarat batu di jurang tidak mungkin kembali ke tebing, kecuali ada pasokan energi untuk mengangkat batu ke atas. Siklus pemulihan H2O dan CO2 secara alami menjadi bio- massa adalah melalui fotosintesis (H2O + CO2 --> pati, lemak, protein, vitamin).
Proses fotosintesis ini pun tunduk pada Hukum Termodinamika melalui himpunan reaksi biokimia di dalam sel yang dikatalisis oleh enzim yang khas untuk melangsungkan mekanisme reaksi yang kompleks dengan pasokan energi radiasi Matahari. Perubahan air menjadi lemak (BBN) secara alami ini memerlukan energi yang sangat besar. Efisiensi konversi fotosintesis diperkirakan hanya 5,3 persen dari total energi radiasi Matahari yang diterima oleh tanaman.
Dalam konteks ini, kalimat Jules Verne, yang menyatakan air akan menjadi sumber energi melebihi batu bara, harus dimaknai lebih arif melalui salah satu peran air sebagai reaktan dalam proses biologis untuk menciptakan ketersediaan sumber energi biomassa di Bumi yang juga asal- muasal batu bara dan minyak.
Fungsi air yang sangat esensial bukan karena nilai kalor yang dikandungnya, tapi karena struktur molekul air yang unik justru yang memberikan sifat dan peran luar biasa sebagai penyandang predikat pendukung eksistensi kehidupan.
Robert Manurung Pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung
sumber:
sumber kompas
Manusia boleh saja berupaya atau berikhtiar melakukan penemuannya untuk manfaat sebanyak-banyaknya bagi kepentingan manusia itu sendiri. Namun, jauhi godaan untuk membentuk kebohongan, apalagi jika itu demi kuntungan pribadi.
Bahan Bakar Air Menyalahi Hukum Alam
Robert Manurung, Sabtu, 31 Mei 2008 | 00:45 WIB
Pada saat pelaporan ekspedisi kendaraan berbahan bakar nabati di Istana Negara satu tahun yang lalu, atas pertanyaan keabsahan bahan bakar air, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman merespons dengan guyonan bahwa bahan bakar air mungkin benar bila diminum orang yang kehausan dan memulihkan tenaga untuk kemudian mendorong mobil hingga bergerak.
Saya yang berdiri di samping Menneg Ristek berbisik untuk menggunakan kesempatan tersebut memberi penjelasan rinci, yang ditanggapinya bahwa yang hadir saat itu tahu bahwa air tidak mungkin digunakan sebagai bahan bakar. Saya meyakini bahwa semua yang mempelajari konversi energi setuju dengan pendapat Menneg Ristek. Namun, mungkin karena pendapat tersebut tidak disuarakan, setahun kemudian kalangan yang meyakini keberadaan bahan bakar air ternyata semakin berkembang.
Kita perlu memberi apresiasi terhadap usaha pengembangan energi alternatif, tetapi rasionalitasnya harus ditegakkan agar tidak merugikan orang yang terlibat pengembangan atau masyarakat secara umum.
Hukum Termodinamika
Konversi energi dilandasi oleh hukum alam yang dirumuskan dalam hukum termodinamika. Hukum Pertama Termodinamika menjelaskan prinsip kekekalan energi, yang menyatakan bahwa energi tak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan. Energi hanya dapat dikonversi (transduksi) dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Sebagai contoh, energi kimia yang terkandung dalam BBM dikonversi menjadi energi mekanik dalam bentuk gerak torak ketika BBM terbakar dalam ruang bakar mesin.
Hukum Kedua Termodinamika menjelaskan konsep bahwa setiap kejadian di alam semesta memiliki arah dan cenderung berlangsung â€menurun†dari tingkat energi tinggi ke tingkat energi rendah. Oleh karena itu, dalam setiap transformasi energi terjadi penurunan ketersediaan energi sejalan dengan kerja yang dilakukan. Sebuah batu dari tebing cenderung bergerak menuju ke jurang dan ketika mencapai jurang, kemampuan batu untuk melakukan kerja berkurang. Tidak mungkin batu tersebut mampu mengangkat dirinya sendiri mendaki tebing ke atas. Kehilangan energi selama proses tersebut merupakan hasil dari kecenderungan ke arah ketidakteraturan/keacakan (disorder/randomness) lingkungan-alam semesta yang meningkat setiap saat, di mana terjadi transfer energi. Keacakan tersebut diukur sebagai entropi.
Berdasarkan Hukum Kedua Termodinamika, setiap kejadian diikuti dengan kenaikan entropi lingkungan. Contoh sederhana, ketika sebuah gula berbentuk kotak dijatuhkan ke segelas air panas, akan terjadi pergeseran spontan molekul sukrosa dari keadaan yang terstruktur pada kristal menjadi keadaan yang jauh tidak teratur dengan penyebaran molekul gula pada keseluruhan larutan dan entropi sistem meningkat. Molekul sukrosa yang terdistribusi dalam larutan dapat kembali terstruktur jika ada energi yang dipasok, misalnya melalui penguapan air. Meski molekul gula menjadi teratur kembali, jumlah uap air yang menyebar menciptakan keacakan yang lebih besar sehingga entropi keseluruhan juga meningkat.
Air hanya reaktan
Lalu, apa yang melandasi peningkatan kinerja BBM dengan kehadiran air? Yang perlu dicatat dari semua pemberitaan pemakaian bahan bakar air adalah air tidak digunakan sendirian, tapi selalu bagian dari BBM.
Kehadiran air pada sistem pembakaran memang memungkinkan meningkatkan efisiensi pembakaran karena mengubah mekanisme dan/atau menyempurnakan reaksi pembakaran. Pengolahan air terlebih dahulu dengan penambahan bahan kimia atau perlakuan elektrolisis tentu akan memberi kontribusi yang lebih besar dengan kehadiran energi lain pada air.
Penambahan uap air untuk meningkatkan kinerja pada proses gasifikasi (proses mengubah batu bara, kayu, sekam, dan lainnya menjadi bahan bakar gas me- lalui reaksi C + H2O --> CO + H2) sudah lazim dilakukan. Namun, harus dicatat, sebagian unsur karbon (C) dari bahan itu dibakar (bereaksi dengan O2) untuk menghasilkan energi termal agar dimungkinkan air tersebut bereaksi dan berubah menjadi H2.
Dalam hal ini, energi kimia yang terkandung pada H2 dan CO berasal dari karbon (C) dan bukan dari air. Air hanya berperan sebagai reaktan. Perubahan air ini tunduk pada Hukum Termodinamika Pertama ataupun Kedua.
Pembakaran suatu bahan bakar menghasilkan air (H2O) dan karbon dioksida (CO2), yang merupakan struktur molekul hasil pembakaran yang paling stabil. Produk akhir ini tidak mungkin kembali dengan sendirinya menjadi bahan bakar, ibarat batu di jurang tidak mungkin kembali ke tebing, kecuali ada pasokan energi untuk mengangkat batu ke atas. Siklus pemulihan H2O dan CO2 secara alami menjadi bio- massa adalah melalui fotosintesis (H2O + CO2 --> pati, lemak, protein, vitamin).
Proses fotosintesis ini pun tunduk pada Hukum Termodinamika melalui himpunan reaksi biokimia di dalam sel yang dikatalisis oleh enzim yang khas untuk melangsungkan mekanisme reaksi yang kompleks dengan pasokan energi radiasi Matahari. Perubahan air menjadi lemak (BBN) secara alami ini memerlukan energi yang sangat besar. Efisiensi konversi fotosintesis diperkirakan hanya 5,3 persen dari total energi radiasi Matahari yang diterima oleh tanaman.
Dalam konteks ini, kalimat Jules Verne, yang menyatakan air akan menjadi sumber energi melebihi batu bara, harus dimaknai lebih arif melalui salah satu peran air sebagai reaktan dalam proses biologis untuk menciptakan ketersediaan sumber energi biomassa di Bumi yang juga asal- muasal batu bara dan minyak.
Fungsi air yang sangat esensial bukan karena nilai kalor yang dikandungnya, tapi karena struktur molekul air yang unik justru yang memberikan sifat dan peran luar biasa sebagai penyandang predikat pendukung eksistensi kehidupan.
Robert Manurung Pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung
sumber:
sumber kompas
Langganan:
Postingan (Atom)